Ibu itu wanita paling hebat sedunia. Ibu itu wanita paling kuat sedunia. Ibu itu wanita paling luarbiasa sejagat raya. Ibu itu anugerah terindah yang Allah beri dalam hidupku ini..
Ibu,
satu-satunya wanita yang mengerti sedalam apa isi hatiku,
kebahagiaanku, maupun kesedihanku. Ibu, satu-satunya wanita yang
memahami bagaimana cara mendidik aku yang cuma ‘seorang’ ini diantara
ketiga arjunanya. Ibu sangat baik, amat baik, selalu baik…
Ibu
mengajarkanku kemandirian. Maka aku hidup di perantauan sejak SMA.
Apakah aku menganggap ibu kejam dengan caranya? Tidak. Karena ibu selalu
berprinsip, “ibu akan selalu menjagaku dan mengawasiku
dikala ia tak dapat memeluk, mendengar ceritaku, serta menyeka air
mataku lewat do’anya, ya lewat do’anya..karena Allah pasti akan selalu
menjaga dan mengawasiku bukan?”
Ibu
memberikanku kebebasan sepenuhnya, asal aku masih dalam batas yang
wajar sesuai dengan perkembangan jiwaku. Oleh karenanya ibu memarahiku
saat aku mengaku diajari mengendarai motor oleh temanku saat SMP. Oleh
karenanya ibu marah ketika tahu aku memiliki seorang teman dekat pria
yang menelponku tengah malam saat SMP. Dan apakah aku dendam dengan cara
ibu terhadapku? Jawabanku, tidak. Buktinya ibu membolehkan aku
mengendarai motor sendiri saat usiaku berjalan 17 dan ibu membolehkan
seorang teman pria untuk sekedar main ke rumahku di penghujung masa
SMAku. Semua itu ada porsinya dan ada saatnya. Ibu percaya padaku. Itu katanya.
Ibu
siap melebarkan telinga dan meluangkan sebagian besar waktunya untuk
mendengar kisahku. Aku ini, mungkin anaknya yang paling talkactive
alias cerewet dibanding ketiga jagoannya. Maka, setiap akhir minggu
tiap aku mudik kala aku masih bersekolah SMA, ibu sudah bersiap
mendengar semua ceritaku. Jadi jangan heran kalau setiap temanku sudah
dikenal oleh ibuku walaupun belum pernah bertemu sebelumnya. Apakah ibu
bosan dengan ritual yang masih berlangsung ketika aku mudik dari Bogor?
Jawabnya, tidak. Ketika itu dipenghujung kelas 3 SMA, aku mudik dalam
kondisi demam dan langsung tidur semalaman, ibu bertanya-tanya dan
menerka pasti ada yang tidak beres dengan Imi (panggilan sayangku di
rumah). Benar saja, aku terserang typhus untuk kedua kalinya kala itu.
Ibu,
menangis saat aku akan ‘ditaruh’ di asrama. Ya, aku melihatnya
menangis. Ibu yang selalu terllihat tegar dihadapanku kala itu menangis
di depan Wisma Landhuiss IPB mengiringi perpisahanku dengannya. Mengapa?
Apakah aku menganggap ibu ‘lebay’? Tidak, bukan itu jawabannya. Yang
benar ialah karena ibu berat melepaskanku di kota yang jauh dari kampung
halamanku dan di kota yang jauh lebih keras dibanding di rumah ketika
belaian dan panggilan sayangnya kerap menyapaku.
Ibu
memiliki ikatan/bonding yang sangat kuat denganku, perasaannya tajam.
Seringkali, saat aku melalui berbagai masalah di kerasnya tempat
perantauan, saat aku kekurangan uang, saat aku mendapat hasil ujian
dibawah prediksi, saat aku mendapat tekanan dari orang lain, saat aku
tak mampu menyelesaikan semua seorang diri namun aku terlalu naïf dan
menganggap aku kuat. Saat itulah ibu akan memunculkan namanya pada
ponselku. Ibu selalu mengetahui perbedaan nada bicaraku, tinggi
rendahnya, intonasinya. Karena dengan cara itu ia dapat menerka apa yang
terjadi padaku saat aku jauh.
Maka nikmat mana yang kamu dustakan?
Syukur Alhamdulillah..Syukur..Selalu
bersyukur atas apa yang telah engkau berikan padaku Yaa Allah..Engkau
menitipkanku pada wanita yang lembut hatinya, baik perangainya, dan kuat
pendiriannya. Bersyukur, Engkau menganugerahkanku seorang
ibu yang mengerti porsi ideal dalam mendidik seorang aku. Bersyukur,
Engkau menghadiahkanku seorang ibu yang amat paham betapa rapuhnya aku
yang seorang ini dibanding ketiga arjunanya.
(ditulis dalam kerinduan yang teramat sangat pada ibu di Purbalingga, dalam kangen aku menangis)
