Rabu, 01 Februari 2012

Sesaat setelah telpon ibu (17 Januari 2012, 4.45-5.31 pm)

Ibu itu wanita paling hebat sedunia. Ibu itu wanita paling kuat sedunia. Ibu itu wanita paling luarbiasa sejagat raya. Ibu itu anugerah terindah yang Allah beri dalam hidupku ini..
 
Ibu, satu-satunya wanita yang mengerti sedalam apa isi hatiku, kebahagiaanku, maupun kesedihanku. Ibu, satu-satunya wanita yang memahami bagaimana cara mendidik aku yang cuma ‘seorang’ ini diantara ketiga arjunanya. Ibu sangat baik, amat baik, selalu baik…

Ibu mengajarkanku kemandirian. Maka aku hidup di perantauan sejak SMA. Apakah aku menganggap ibu kejam dengan caranya? Tidak. Karena ibu selalu berprinsip, ibu akan selalu menjagaku dan mengawasiku  dikala ia tak dapat memeluk, mendengar ceritaku, serta menyeka air mataku lewat do’anya, ya lewat do’anya..karena Allah pasti akan selalu menjaga dan mengawasiku bukan?

Ibu memberikanku kebebasan sepenuhnya, asal aku masih dalam batas yang wajar sesuai dengan perkembangan jiwaku. Oleh karenanya ibu memarahiku saat aku mengaku diajari mengendarai motor oleh temanku saat SMP. Oleh karenanya ibu marah ketika tahu aku memiliki seorang teman dekat pria yang menelponku tengah malam saat SMP. Dan apakah aku dendam dengan cara ibu terhadapku? Jawabanku, tidak. Buktinya ibu membolehkan aku mengendarai motor sendiri saat usiaku berjalan 17 dan ibu membolehkan seorang teman pria untuk sekedar main ke rumahku di penghujung masa SMAku. Semua itu ada porsinya dan ada saatnya. Ibu percaya padaku. Itu katanya.

Ibu siap melebarkan telinga dan meluangkan sebagian besar waktunya untuk mendengar kisahku. Aku ini, mungkin anaknya yang paling talkactive alias cerewet dibanding ketiga jagoannya. Maka, setiap akhir minggu tiap aku mudik kala aku masih bersekolah SMA, ibu sudah bersiap mendengar semua ceritaku. Jadi jangan heran kalau setiap temanku sudah dikenal oleh ibuku walaupun belum pernah bertemu sebelumnya. Apakah ibu bosan dengan ritual yang masih berlangsung ketika aku mudik dari Bogor? Jawabnya, tidak. Ketika itu dipenghujung kelas 3 SMA, aku mudik dalam kondisi demam dan langsung tidur semalaman, ibu bertanya-tanya dan menerka pasti ada yang tidak beres dengan Imi (panggilan sayangku di rumah). Benar saja, aku terserang typhus untuk kedua kalinya kala itu.

Ibu, menangis saat aku akan ‘ditaruh’ di asrama. Ya, aku melihatnya menangis. Ibu yang selalu terllihat tegar dihadapanku kala itu menangis di depan Wisma Landhuiss IPB mengiringi perpisahanku dengannya. Mengapa? Apakah aku menganggap ibu ‘lebay’? Tidak, bukan itu jawabannya. Yang benar ialah karena ibu berat melepaskanku di kota yang jauh dari kampung halamanku dan di kota yang jauh lebih keras dibanding di rumah ketika belaian dan panggilan sayangnya kerap menyapaku.

Ibu memiliki ikatan/bonding yang sangat kuat denganku, perasaannya tajam. Seringkali, saat aku melalui berbagai masalah di kerasnya tempat perantauan, saat aku kekurangan uang, saat aku mendapat hasil ujian dibawah prediksi, saat aku mendapat tekanan dari orang lain, saat aku tak mampu menyelesaikan semua seorang diri namun aku terlalu naïf dan menganggap aku kuat. Saat itulah ibu akan memunculkan namanya pada ponselku. Ibu selalu mengetahui perbedaan nada bicaraku, tinggi rendahnya, intonasinya. Karena dengan cara itu ia dapat menerka apa yang terjadi padaku saat aku jauh.

Maka nikmat mana yang kamu dustakan?
Syukur Alhamdulillah..Syukur..Selalu bersyukur atas apa yang telah engkau berikan padaku Yaa Allah..Engkau menitipkanku pada wanita yang lembut hatinya, baik perangainya, dan kuat pendiriannya. Bersyukur, Engkau menganugerahkanku seorang ibu yang mengerti porsi ideal dalam mendidik seorang aku. Bersyukur, Engkau menghadiahkanku seorang ibu yang amat paham betapa rapuhnya aku yang seorang ini dibanding ketiga arjunanya.

(ditulis dalam kerinduan yang teramat sangat pada ibu di Purbalingga, dalam kangen aku menangis)

Impian ke-42

Tersebutlah aku sebagai salah satu mahasiswi sebuah institusi yang sangat ber'label' pesantren. Ya, aku memang sudah berjilbab, tapi.

Setelah pertemuanku dengan seseorang bernama Sidik Cahya Hidayat (yang aku promosikan jadi aktor dalam entri pertamaku di blog ini). Aku kemudian mencoba bertualang dalam dunia remaja yang disebut 'cinta'


Padahal aku sudah berjilbab kala itu, ya, aku sudah mengenakannya. Namun aku masih labil (dan mungkin kelabilan itu berlangsung hingga kini). Saat itu aku berpacaran dengan Mr. K, padahal aku masih SMP dan aku pernah dimarahi ibuku habis-habisan karena ketauan telpon-telponan dengannya tengah malem. Kata ibu tidak sopan bertelpon ria malam-malam begitu, mengganggu tetangga. Tapi aku pun cuek saja, ya gimana sih, namanya juga lagi jatuh cintrong. Si Mr. K ini posesif sekali, seringnya sms nanyain aku lagi dimana, dengan siapa, sedang berbuat apa (eh, jadi kayak lagu). Aku-nya tetep enjoy, sekali lagi pemirsa *gaya tukul* saya ini lagi jatuh cinta. Eh tau ngga, di awal masa SMA si Mr. K ini malah selingkuh. OMG! Dunia runtuh rasanya kala itu..Zzzzz...Kejadiannya tuh ceritanya si Mr. K ini LDR sama aku, coz aku memilih sekolah faforit yang tidak berada di kotaku..Eh ternyata si Mr. K ini nembak sahabatnya sahabatku (dia belum profesional nampaknya). Yasudah kita putus :')


Habis itu, aku jadian lagi sama Mr. C, cuma selang satu bulan dari masa berdukaku akibat putus dikhianati (ebusseeeet laku amat :p). Orang bilang ini adalah pelarian, aku bilang engga juga, ini hanya pelampiasan *hoy, apa bedanya?* Tapi aku senang sama Mr. C, habis dia kerjaannya bikinin aku puisi-puisi cinta gituu, hehe. Maklum pemirsa, kala itu saya masih labil. Catat : saya masih labil *alibi. Dia baik banget, tapi lama-lama bosen juga. Soalnya tiap ada masalah pasti dia ngalah, pasti dia yang bakal jadi tersangkanya, ya ampun padahal kan aku yang suka bikin gara-gara. Udah gitu, dia ketauan jarang sholat deh kayaknya. Astaghfirullah, bukannya menuduh, tapi beberapa kali sholat diimamin dia, masa sholat dzuhur sama ashar bacaannya "jahran" si? Akhirnya, ga nyampe satu taun aku berhasil mutusin dia. Hahaha, emang enak *eh*.


Belum selesai sampai disitu petualangan cintaku --> mirip judul film ya? Kemudian aku didekati lagi oleh seorang mantan murid ibuku saat ia SD dulu, namanya Mr. Z. Dia buaaaaiiiik buaaangeeeet, dewasa, 'alim (tapi kok mau pacaran ya?) hehe. Awalnya aku nyaman ngejalanin sama dia, eh ditengah-tengah ternyata kita lebih cocok dibilang simbiosis parasitisme. Kenapa? Iya, dia parasit saudara-saudara. Arrrgh, aku salah lagi pilih pacarnya -.-" Belakangan aku tau sifatnya itu dari mantan pacarnya, aduh masa sih cowo ngga mau modal dikit? 


Udah diselingkuhin, ditemuin sama cowo yang kurang 'jos' ibadahnya, sampe ketemu si parasit, eh aku masih aja ingin mencoba (emang tryout?). Sampailah akhirnya aku jadian dengan teman sekelasku yang bernama Mr. H. Ceritanya aku ini pacar pertamanya. Wah, dia baik luar biasa juga, lucu kayak anak kecil, dan punya keinginan kuat biar tembus universitas faforit karena waktu itu kita pacaran saat SMA kelas 3. Sayangnya, setelah dia tembus ke-5 universitas ternama dan akhirnya memilih ke salah satu sekolah tinggi keuangan yang termashyur di negeri ini, dia selingkuh. Ya, malangnya nasibku, sendiri lagi, sendiri lagi. Gagal maning, gagal maning son! T.T

Tau ngga, pas aku pacaran sama semua tokoh diatas itu, ngga ada satupun yang aku publikasikan ke kedua orang tuaku