Namamu Sidik Cahya Hidayat. Usiamu hampir menginjak 23 tahun kini, tepat enam tahun yang lalu kita bersua di suatu tempat dan waktu yang hingga kini pun tak pernah ku duga. Mungkin Allah memang menggariskannya sedemikian rupa. Ya, rencana-Nya memang selalu indah.
Aku mencintaimu apa adanya.
Karena tanpa alasan.
Aku mencintaimu bukan karena ketampananmu
Jika itu yang terjadi, maka saat kau bercerita bahwa kulitmu menjadi hitam legam karena terpapar surya saat mendaki, rasa sayangku mungkin akan pudar atau bahkan hilang.
Tapi tidak, karena aku mencintaimu apa adanya
Aku mencintaimu bukan karena kepintaranmu
Jika itu yang terjadi, maka saat kau bercerita bahwa adikmu lah yang lebih pintar karena ia bisa lolos ke sekolah yang istimewa sedangkan kau biasa-biasa saja, rasa sayangku mungkin akan terbang jauh menguap terbawa ke-"ilfeel"-anku
Tapi tidak, karena aku mencintaimu apa adanya
Aku mencintaimu bukan karena kekayaanmu
Jika itu yang terjadi, maka ketika kau bercerita sudah memiliki pekerjaan, aku tak lantas lupa diri memintamu untuk memberi aku berupa-rupa barang
Itu karena, aku mencintaimu apa adanya
Aku mencintaimu bukan karena masa lalumu
Jika itu yang terjadi, maka ketika kau cerita masa kelammu dari masa awal perkenalan kita serta masa 'amat' kelam pada pertengahan perkenalan kita, mungkin aku sudah mencacimu habis-habisan karena itu semua tak sejalan dengan prinsipku
Tapi tidak, karena aku mencintaimu apa adanya
Aku mencintaimu bukan karena perhatianmu
Jika itu yang terjadi, maka ketika kau 'menghilang' tiba-tiba dari roda keseharianku selama berbulan-bulan, mungkin aku sudah mencari penggantimu agar menggantikanmu di hatiku
Tapi tidak, karena aku mencintaimu apa adanya
Aku mencintaimu bukan karena kau mengganggap aku pacarmu
Jika itu yang terjadi, maka ketika kau bercerita telah memiliki juwita hati yang seratus delapan puluh derajat berbeda denganku, mungkin aku sudah mundur teratur
Tapi tidak, karena aku mencintaimu apa adanya
Aku mencintaimu apa adanya, tak beralasan,
Seperti tak beralasanmu sangat kau mengatakan 'TRESNA' kepadaku
(aku mencintaimu sampai kapanpun, bukan cinta buta. hanya cinta seorang ismi kepada seorang cahya)